3 Jun 2009

Melihat Gunung Api di Bawah Laut

Baru-baru ini, sejumlah situs serta blog lokal dan asing ramai membahas gunung api bawah laut raksasa temuan tim gabungan pakar geologi Indonesia, Amerika Serikat, dan Perancis di perairan barat daya Sumatera.


Segenap rasa takjub sekaligus cemas mewarnai pembahasan di dunia maya itu. Maklum, kita lebih terbiasa melihat gambaran gunung di daratan, seperti lukisan pemandangan zaman Mooi Indie.

Sebagai negara kepulauan yang berada dalam pertemuan tiga lempeng kerak bumi utama, yaitu Lempeng Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia, sepanjang kepulauan Indonesia berisi rangkaian gunung berapi di daratan ataupun di bawah permukaan lautnya.

Dari beberapa penelitian dan survei kelautan, sebagian besar gunung api yang telah terdeteksi berada di kedalaman puluhan hingga ribuan kilometer sehingga hanya dapat diselami dengan bantuan alat berteknologi khusus.

Di antara banyak gunung berapi terdapat dua gunung yang berada di perairan cukup dangkal. Salah satunya di Pulau Mahengetang, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Pertengahan Mei lalu dalam kunjungan singkat, saya sempat menyaksikan bentukan alam yang unik ini.

Banua Wuhu, demikian masyarakat setempat menyebut gunung itu, berada hanya 300 meter dari sisi barat daya Pulau Mahengetang. Titik kepundan gunung ditandai oleh keluarnya gelembung di antara bebatuan di kedalaman 8 meter. Suhu air rata-rata di sana 37-38 derajat celsius. Di sejumlah lubang, keluar air panas yang tampaknya mampu membuat tangan telanjang melepuh bila coba-coba merogoh ke dalamnya.

Saya hanya sempat menyelam dua kali di sini. Pertama, karena terlalu sore, pasang telah naik dan arus cukup kuat. Keesokan harinya kami turun tepat saat arus mati, yaitu masa antara pergantian arus pasang dan surut. Saat itu kami dapat menjelajahi topografi Banua Wuhu berupa bukit dan lembah tumpukan bebatuan berukuran besar. Kehidupan biota laut juga tak kalah menarik, koloni terumbu karang yang rapat dan sehat terhampar di kedalaman 10 meter hingga 20 meter.

Konon terdapat lorong bawah laut yang tembus dua arah. Masyarakat setempat menyelenggarakan upacara tulude setiap akhir Januari. Dua minggu sebelum ritual tersebut, seorang tetua adat akan menyelam dengan membawa piring putih berisi emas ke lorong tersebut sebagai persembahan agar Banua Wuhu tidak murka.
Kompas.com

10 komentar:

Just mengatakan...

Subhanallah.....
Gunung di darat jg indah bgt, aplgi dibwh laut????

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Alhamdulillah,.... ternyata sudah bisa yah.

Indah sekali yah bro,... sekarang bukan jalan-jalan di ketinggian, tapi sambil menyelam buang air.

merin mengatakan...

Keren bangetz fotona...
tapi, lebih menyenangkan lagi klo mer bis diving 'n liat langsung...

indoneter mengatakan...

aw.. aw.. aw.. aw.. aw.. aw.. aw.. aw.. aw.. aw.. aw.. aw.. aw.. aw.. aw.. aw.. aw.. aw.. aw.. aw.. aw..
iso komentar..

mareas nami sipayung mengatakan...

wew.............
kapan ya gue bisa berwisata di bawah air :(
++++++++++++++++++++++
kontes Blog berhadiah 2 laptop dan ratusan hadiah lainnya...
_________________________
http://mareasspy.blogspot.com/2009/05/mp3-music-player-samsung-yp-u4.html

wiyono mengatakan...

wah blog yang memukau hati

Fetra mengatakan...

wuiiih...ini bukti kekuasaan Tuhan

Teenager Talks mengatakan...

haii...saing sob!
kunjungan pertama gue
sumpe blog yang loe keren

Puspita Wulandari mengatakan...

Subhanallah.

Bahagia ya mas diberi kesempatan oleh Allah mengunjungi kebesaran Allah di bawah permukaan air laut.

Selamat ya. Terima kasih sudah jala-jalan ke blog saya.

Fanda mengatakan...

Enak ya klo bisa nyelam, melihat kekayaan alam di bawah laut sana...