24 Apr 2010

Petir Misteri dari Kawah Gunung Islandia

Kawah itu juga mengeluarkan abu ke atmosfir selama beberapa hari.

Gambar yang dilihat ini mungkin seperti spesial efek dari film tentang bencana alam. Tetapi, muntahan abu dengan kilatan cahaya yang memiliki efek seperti bulu-bulu itu adalah nyata.

Seperti ditulis liveScience.com, Rabu 21 April 2010, fenomena kilatan cahaya dari bibir kawah gunung berapi Islandia yang muntahan abunya mengganggu penerbangan di Eropa itu, masih misteri.
Adalah fenomena gunung Eyjafjallajokull (ay-yah-fyah-lah-yer-kuhl) yang mengganggu penerbangan Eropa dengan kilatan misteri.



Beberapa fotografer sempat mengabadikan fenomena cahaya yang digambarkan seperti 'kemarahan' Eyjafjallajokull, pada Minggu 18 April pagi.
Kawah itu juga mengeluarkan abu ke atmosfir selama beberapa hari. Sepanjang kilatan seperti badai berlangsung, gunung itu juga menciptakan fenomena pencahayaan matahari terbenam dengan abunya.

Tetapi disebutkan bahwa, para peneliti sudah lama mengenal fenomena ini. Kilatan-kilatan cahaya 'berbulu' itu memang bisa dihasilkan dari mulut kawah gunung berapi.
Petir atau kilatan itu biasanya dihasilkan dari badai guntur atau cuaca buruk lainnya. Tetapi, puing-puing awan yang berputar-putar dari gunung berapi juga bisa menciptakan petir.

Petir atau kilat dari gunung berapi itu berkaitan dengan peristiwa perputaran di dalam tubuh gunung, seperti fenomena tornado.
Saat perputaran itu terjadi, timbul tekanan ke atas menuju kawah seperti air yang menyembur keluar dengan materi dari dalam gunung, termasuk abu dalam jumlah besar.
Peristiwa itu bersamaan dengan keluarnya petir atau kilat dari dalam menuju bibir kawah. (umi)
• VIVAnews

Selengkapnya......

Letusan Eyjafjallajokull Vs Tambora, 1:10.000

Abu letusan Tambora, selain mematikan, mengubah cuaca dunia, bahkan mengubah sejarah.

Letusan Gunung Eyjafjallajokull di Islandia menyemburkan abu vulkanik yang memusingkan, karena mengacaukan lalu lintas udara Eropa.
Ribuan penumpang tertahan di bandara, perekonomian terganggu, barang-barang komoditas pertanian membusuk karena tak bisa dikirim.

Namun, menurut laman Wall Street Journal, Sabtu 24 April 2010 dampak letusan Gunung Eyjafjallajökull tak sebanding dengan letusan Gunung Tambora di Sumbawa Indonesia


Pada 5 April 1815 sore, gunung berapi Tambora mulai bergemuruh dan 'batuk -batuk'. Kondisi ini terjadi dalam beberapa hari.
Beberapa hari kemudian, pada 11 dan 12 April letusan Gunung Tambora mencapai klimaksnya. Gunung besar itu meletus, getarannya mengguncangkan bumi hingga jarak ratusan mil.

Selama lebih dari 10 hari kemudian, Tambora mengeluarkan 24 kubik mil (1 mil = 1,6 kilometer) lava dan bebatuan gunung. Saking dahsyatnya, di puncak Tambora tercipta kawah selebar tiga mil dan dalamnya hampir 1 mil.
Lelehan lava panas, batu yang berterbangan, dan gas mematikan yang keluar dari perut Tambora saat itu menewaskan puluhan ribuan orang.

Jutaan ton abu dan debu memenuhi udara, mengubah siang hari menjadi gelap gulita. Debu tebal menyelimuti wilayah kaki gunung dan bahkan Bali.
Debu menutup semua vegetasi di Pulau Bali dan menyelimuti lautan. Sekitar 117.000 orang di wilayah yang dulu dikenal sebagai Hindia Belanda tewas. Banyak dari mereka terkena imbas letusan, jadi korban kelaparan dan penyakit.

Itu baru permulaan.

Letusan gunung di Islandia sama sekali bukan bandingan untuk Tambora. Badan Geologi Amerika Serikat atau US Geological Survey bahkan menobatkan letusan Tambora sebagai "yang terkuat sepanjang sejarah".
Letusan Tambora bahkan lebih dahsyat dari Krakatau. Menurut data Volcanic Explosivity Index (VEI), indeks letusan gunung yang mirip skala Richter untuk mengukur kekuatan gempa.

Perhitungan VEI ada pada skala 1 hingga 8, setiap satu angka adalah 10 lebih besar dari sebelumnya. Tambora ada di level tujuh, Krakatau enam. Ini berarti Tambora lebih kuat 10 kali lebih besar dari letusan Krakatau.
Bagaimana letusan gunung Islandia? Leel VEI-nya hanya dua atau tiga. Ataiu 10.000 kali lebih lemah dari Tambora.

Letusan Eyjafjallajökull 'saja' bisa mempengaruhi atmoser dan membuat dunia penerbangan kalang kabut.
Tak terbayang jika Tambora meletus di era ini. Seperti meriam raksasa, tambora menyemburkan abu, debu, dan setidaknya 400 juta ton gas sulfur ke udara, hingga 27 mil tegak lurus ke strastofer, jauh di atas awan cuaca.

Ini mengakibatkan ledakan di lapisan troposfer -- lapisan terdekat dari permukaan Bumi, di mana awan, angin, dan hujan, serta 75 persen dari berat atmosfer berada.
Semburan Tambora juga menyobek lapisan tipis ozon yang melindungi Bumi dari radiasi sinar matahari.

Karena daya tarik grafitasi yang ringan di angkasa, abu dan debu Tambora melayang dan menyebar mengelilingi dunia. Debu Tambora menetap di lapisan troposfer selama beberapa tahun dan turun melalui angin dan hujan kembali ke Bumi.
Letusan Tambora berakibat luar biasa. Gagal panen di China, Eropa, dan Irlandia. Hujan tanpa henti dselama delapan minggu memicu epidemi tifus yang menewaskan 65.000 orang di Inggris dan Eropa. Kelaparan melumpuhkan di Inggris.

Kegelapan menyelimuti Bumi, menginspirasi novel-novel misteri legendaris misalnya, 'Darkness' atau 'Kegelapan' karya Lord Byron, 'The Vampir' atau 'Vampir' karya Dr John Palidori dan novel 'Frankenstein' karya Mary Shelley.

Tambora juga jadi salah satu pemicu kerusuhan di Perancis yang warganya kekuarangan makanan. Juga mengubah sejarah saat Napoleon kalah akibat musim dingin berkepanjangan dan kelaparan pada 1815 di Waterloo. (jno)
VIVAnews

Selengkapnya......

15 Jan 2010

Jessica Biel Menangis Taklukkan Kilimanjaro

Aktris Jessica Biel berurai air mata ketika akhirnya bisa mencapai puncak Gunung Kilimanjaro. Biel benar-benar tak percaya ia sanggup menaklukkan gunung tertinggi di Afrika itu.


Biel dengan rekan-rekannya seperti aktor Emile Hirsch dan rapper Lupe Fiasco, sampai di puncak Kilimanjaro setelah menempuh enam hari perjalanan. Mereka semua mendaki Kilimanjaro untuk membangkitkan kesadaran masyarakat tentang krisis air yang sedang terjadi di seluruh dunia.

"Kami saling berpelukan dan menangis. Masing-masing dari kami, benar-benar menangis," ujar Elizabeth Gore, rekan pendakian Biel, seperti dilansir Female First, Jumat (15/1/2010).

Dituturkan Gore, perjalanan mereka mendaki gunung dengan ketinggian 19.340 kaki itu tidak mudah. Udara yang sangat dingin, sekitar nol derajat, salah satu kendala yang harus mereka tempuh.

Setelah sampai puncak, perjuangan Biel dan kawan-kawan belum selesai. Menurut Gore, perjalanan kembali bawah, bisa sama beratnya.

"Menuju ke bawah sangat curam dan ada banyak es. Jadi kami harus benar-benar harus hati-hati agar tidak terpleset," jelasnya.

Pendakian yang dilakukan kekasih Justin Timberlake itu diorganisir oleh rapper Kenna. Sebelumnya, ayah Kenna terkena penyakit akibat pencemaran air yang berkembang di Ethiopia.
detik.com

Selengkapnya......

10 Nov 2009

Merapi Yang Indah

Merapi adalah nama sebuah gunung berapi di provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang masih sangat aktif hingga saat ini. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. Letaknya cukup dekat dengan Kota Yogyakarta dan masih terdapat desa-desa di lerengnya sampai ketinggian 1700 m.

Bagi masyarakat di tempat tersebut, Merapi membawa berkah material pasir, sedangkan bagi pemerintah daerah, Gunung Merapi menjadi obyek wisata bagi para wisatawan. Kini Merapi termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi.

Gunung yang mempunyai ketinggian 2968 mdpl merupakan obyek pendakian yang popular. Jalur pendakian yang paling umum dan dekat adalah melalui sisi utara dari Sèlo, satu kecamatan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, yang terletak di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui Selo memakan waktu rata-rata 5 jam hingga ke puncak.

Puncak Gunung Merapi dapat dijangkau melalui dua jalur pendakian yaitu jalur utara dari desa Plalangan Selo dengan sekitar 1800 m, menuju Selokopo Ngisor, Selokopo Nduwur, Gajah Mungkur, Pasar bubrah dan Puncak.
Serta jalur pendakian selatan dari desa Kinahrejo. Pendakian dari arah utara merupakan jalur yang disarankan karena mempunyai lereng yang lebih landai. Aktivitas Gunung Merapi akhir-akhir ini mengarah ke selatan sampai barat juga mendukung jalur utara sebagai jalur yang lebih aman.
Di daerah Kinahrejo sekitar 1 km di sebelah barat Bebeng Kaliadem merupakan pintu gerbang pendakian ke puncak Merapi dari jalur selatan.

Lereng Utara Merapi terdapat beberapa obyek wisata yang menarik seperti air terjun "Kayang" setinggi 50 m di Desa Wonolelo, Air ini berasal dari Tuk Sanga (mata air sembilan) di dusun Windu Kidul lereng Gunung Merbabu.
Bagi pecinta alam yang ingin berkemah terdapat arena kemah yang berlokasi di atas air terjun tersebut. Disamping Pos Pengamatan Jrakah yang terletak di lereng Gunung Merbabu merupakan Pos yang sangat baik untuk beristirahat dan melakukan persiapan sebelum mendaki puncak Merapi.

Pos Selo juga terletak di lereng Gunung Merbabu dapat dijangkau dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dari Kota Kecamatan. Pos ini menawarkan Panorama Gunung Merapi dan Merbabu yang indah.

Selengkapnya......

15 Agt 2009

Saat Pagi Merona di Dieng

Ketika kabut tipis terurai seiring dengan terbitnya matahari, bukit serta gunung mulai membentuk bayangan siluet. Rona kemerahan matahari terbit perlahan mengganti warna malam. Hiruk pikuk warga mendaki menyusuri pematang bukit untuk mengolah lahan pertanian membuka pagi di Dataran Tinggi Dieng.


Indah! Begitulah pemandangan yang tergambar saat menyaksikan matahari terbit dari gardu pandang yang berlokasi di Desa Dieng, Kecamatan Kejajar, Wonosobo. Gardu pandang yang berada di ketinggian sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut menjadi pos pertama. Berada di lokasi seluas 300 meter persegi dengan dilengkapi bangunan dua lantai ini, pengunjung dapat melihat hamparan Gunung Sindoro dan Sumbing secara utuh.

Memang perlu sedikit perjuangan untuk sekadar melihat pendar cahaya pagi matahari dengan bangun lebih awal pukul 04.30. Apalagi memulai perjalanan dari kota Wonosobo yang berjarak sekitar 20 kilometer. Perlu waktu sekitar 30 menit melintasi jalan sepi serta menanjak berkelok-kelok untuk sampai di sana.

Dingin pagi membekukan tubuh menjadi sensasi tersendiri saat menunggu semburat biru langit berkombinasi merah jingga dari rekahan cahaya pagi. Matahari berwarna merah keemasan yang muncul perlahan itu sering disebut sebagai golden sunrise.

"Saya sering membawa turis asing untuk melihat matahari terbit dari gardu pandang," ungkap Agus Tjugianto (68), pemilik Hotel dan Restoran Dieng Kledung Pass. Agus yang telah puluhan tahun malang melintang menjadi pemandu wisata itu menyarankan untuk melihat matahari terbit dari area kompleks Candi Arjuna.

Berbekal tips dari "pakar" Dieng itu, perjalanan berlanjut ke kompleks Candi Arjuna yang berjarak lima kilometer dari gardu pandang. Percandian Hindu yang ada sejak tahun 800-an pagi itu masih samar berselimut kabut. Tampak tekstur bangunan candi dengan latar belakang bukit yang mulai tertimpa cahaya matahari menambah segar suasana pagi.

Detik-detik itu sangat sayang terlewatkan ketika kita tidak membawa paralatan dokumentasi seperti kamera foto atau video. Bagi pehobi berat fotografi pemandangan seperti ini akan memenuhi memori kamera mereka. Pudarnya cahaya mentari kemerahan yang berubah menjadi putih menandai silver sunrise atau "matahari perak".

Tinggalkan sejenak matahari yang mulai meninggi. Biarkan kehangatan dan sinar mentari membangunkan dan menyapa semesta. Mari berkeliling memuaskan mata memandangi kompleks percandian kuno yang kesohor itu.

Puas menjelajah, tidak ada salahnya menikmati sajian setempat, seperti minuman purwaceng.

Selengkapnya......